Situs-situs Berserajarah dan Warisan Budaya Palestina di Gaza yang Dihancurkan Israel Selama Perang Gaza.

Gaza, menurut para sejarawan, adalah salah satu wilayah yang paling tua yang dihuni manusia setidaknya sejak abad ke-15 SM.

Berbagai kerajaan-kerajaan besar, termasuk Mesir kuno, Asyur, dan Romawi, pernah menguasai tanah Kana’an, nenek moyang orang Palestina, dan meninggalkan berbagai peninggalan sebagai warisan budaya mereka. Selama beradab-abad berbagai bangsa, seperti Yunani, Persia, dan Nabatea juga pernah tinggal di wilayah ini.

Lokasi Gaza sangat strategis, yaitu di pantai timur Mediterania. Menjadi wilayah utama dalam rute perdagangan dari Eurasia ke Afrika. Menjadi pelabuhan utama sebagai pusat perdagangan dan budaya regional. Sejak setidaknya tahun 1300 SM, Via Maris merupakan rute utama yang dilalui oleh para pedagang, pelancong atau musafir menuju ke Damaskus.

Kini berbagai peninggalan bersejarah dan situs-situs penting yang berada di Gaza mengalami kehancuran dan kerusakan akibat penyerangan Israel ke wilayah ini dalam 100 hari terakhir.

Sebuah pelabuhan kuno yang berasal dari tahun 800 SM, sebuah masjid yang menyimpan manuskrip-manuskrip langka dan salah satu biara Kristen tertua di dunia adalah beberapa dari sedikitnya 195 situs warisan budaya yang telah dihancurkan atau dirusak.

Memusnahkan warisan budaya suatu bangsa merupakan salah satu dari kejahatan perang yang dituduhkan Afrika Selatan kepada Israel dalam gugatan yang disidangkan pekan lalu di Mahkamah Internasional di Den Haag, Belanda. Gugatan itu menyatakan: "Israel telah merusak dan menghancurkan berbagai pusat pembelajaran dan budaya Palestina", termasuk perpustakaan, situs-situs keagamaan, dan tempat-tempat bersejarah yang penting.

"Kejahatan yang menargetkan dan menghancurkan situs-situs arkeologi seharusnya mendorong dunia dan UNESCO untuk bertindak demi melestarikan warisan peradaban dan budaya yang luar biasa ini," kata Kementerian Pariwisata dan Barang Antik Gaza setelah Masjid Agung Omari di Gaza dihancurkan dalam serangan udara Israel pada tanggal 8 Desember.

Sebagai akibat dari serangan tersebut, koleksi manuskrip kuno yang disimpan di masjid itu hilang selamanya. "Koleksi manuskrip tetap berada di sekitar masjid dan saat ini tidak dapat diakses karena konflik yang terus terjadi," ujar Columba Stewart, CEO Hill Museum and Manuscript Library (HMML).

Konvensi Den Haag 1954, yang disetujui oleh Palestina dan Israel, seharusnya melindungi tempat-tempat penting dari kerusakan akibat perang. Isber Sabrine, presiden LSM internasional yang mendokumentasikan warisan budaya, menjelaskan bahwa kejahatan terhadap warisan budaya merupakan bagian dari "kerusakan akibat genosida".

"Perpustakaan berfungsi sebagai tempat penyimpanan budaya, dan menyerang perpustakaan adalah serangan terhadap warisan budaya. Apa yang terjadi sekarang adalah kejahatan perang. Hal ini bertentangan dengan konvensi Den Haag," kata Sabrine. "Israel mencoba untuk menghapus hubungan masyarakat dengan tanah mereka. Ini sangat jelas dan disengaja. Warisan Gaza adalah bagian dari masyarakatnya, sejarah dan hubungan mereka."

Genosida budaya telah menghapus Warisan Benda seperti bangunan museum, gereja, dan masjid serta pot-pot tanah liat yang terkenal di distrik al-Fawakhir. Juga Warisan Takbenda meliputi adat istiadat, budaya, dan artefak. 

Dalam sebuah pernyataan kepada Al Jazeera, UNESCO mengatakan: "Meskipun prioritas diberikan pada situasi kemanusiaan, perlindungan warisan budaya dalam segala bentuknya juga harus diperhitungkan. Sesuai dengan mandatnya, UNESCO menyerukan kepada semua pihak yang terlibat untuk benar-benar menghormati hukum internasional. Warisan budaya tidak boleh menjadi target atau digunakan untuk tujuan militer, karena dianggap sebagai infrastruktur sipil."

Berikut ini adalah beberapa situs yang telah dihancurkan atau dirusak oleh Israel dalam perang Gaza:

Museum

Dewan Internasional Museum-Arab (ICOM-Arab) mengonfirmasi kepada Al Jazeera terdapat empat museum di Gaza, dan dua di antaranya telah dihancurkan.

Salah satunya adalah Museum Rafah yang menjadi museum pertama yang hancur dalam serangan udara pada 11 Oktober 2023. Museum ini adalah museum utama Palestina di Gaza di mana telah mengurasi koleksi koin kuno, lempengan tembaga, dan perhiasan selama 30 tahun.

Selanjutnya Museum Al Qarara atau juga dikenal dengan nama Museum Khan Younis yang berada di puncak bukit, dibuka pada tahun 2016. Museum ini menyimpan koleksi sekitar 3 ribu artefak yang berasal dari bangsa Kana’an, peradaban Zaman Perunggu yang hidup di Gaza dan di sebagian besar wilayah Levant pada abad kedua SM. Kini, museum ini hancur dan tidak menyisakan apapun selain pecahan tembikar dan kaca. Sebelumnya, Museum ini telah diberi peringatan untuk mengosongkan isinya dan mengungsi ke selatan Gaza.

Dua museum lainnya mengalami kerusakan, salah satunya Mathaf al-Funduq, museum kecil yang dibuka pada tahun 2008. Lokasinya berada di Hotel Mathaf di Gaza utara. Kondisinya mengalami kerusakan akibat penembakan yang dilakukan oleh militer Israel pada 3 November 2023.

Museum kedua yang mengalami kerusakan adalah Qasr Al-Basha, awalnya merupakan bangunan Istana Pasha peninggalan dari abad ke-13. Diubah menjadi museum pada tahun 2010 oleh Kementerian Pariwisata Palestina. Museum ini mengoleki artefak dari berbagai periode sejarah Gaza. Situs ini dihantam serangan udara Israel pada 11 Desember, merusak dinding, halaman, dan taman-tamannya.

Perpustakaan

Tidak hanya museum yang mengalami kehancuran, terdapat juga bangunan layanan publik, salah satunya Pusat Kebudayaan Rashad El Shawa di Kota Gaza, yang pernah menjadi tempat perundingan perdamaian yang dihadiri oleh pemimpin PLO Yasser Arafat dan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton pada tahun 1990-an.

Toko Buku komunitas Samir Mansour juga dilaporkan rusak parah. Toko buku ini juga pernah mengalami pengeboman pada tahun 2021 silam.

Perpustakaan Masjid Agung Omari juga mengalami kehancuran setelah diserang pada tanggal 8 Desember 2023.  62 buku, sisa-sisa dari koleksi 20 ribu buku dan manuskrip peninggalan perpustakaan yang didirikan oleh Sultan Zahir Baybars dan dibuka pada tahun 1277, kini telah hancur. Dalam sejarahnya perpustakaan ini dahulu pernah diserang dan dihancurkan selama Perang Salib dan Perang Dunia I yang menyebabkan banyak buku dan manuskrip langka hilang dan hancur, beberapa diantaranya salinan Al-Qur’an kuno, biografi Nabi Muhammad, dan buku-buku kuno tentang filsafat, kedokteran, dan mistik sufi.

Beruntngnya 62 buku tersebut telah berhasil digitalisasikan tahun lalu oleh Hill Museum and Manuscript Library dan British Library dan dapat diakses secara online di Ruang Baca HMML.

Masjid

Serangan yang dilancarkan oleh pasukan Israel dalam perang Gaza juga telah merusak 104 buah masjid, termasuk masjid bersejarah Othman bin Qasqar di Zeitoun, Kota Gaza, dibangun pada tahun 1220. Masjid ini rusak dalam serangan udara pada 7 Desember 2023.

Masjid bersejarah lainnya yang mengalami kerusakan ialah Masjid Sayed al-Hashim di Kota Tua Gaza yang dibangun pada abad ke-12 oleh Mamluk dan dibangun kembali tahun 1850 oleh Sultan Utsmaniyah Abdul Majid. Masjid ini memiliki arti penting karena di dalamnya terdapat makam Hashim bin Abd Manaf, kakek buyut Nabi Muhammad, yang meninggal akibat sakit dalam perjalanan kembali ke Mekkah usai berdagang dari Suriah.

Selanjutnya terdapat Masjid Agung Omari atau Al-Masjid al-Omari al-Kabir, masjid yang paling bersejarah karena diperkirakan menjadi masjid pertama di Jalur Gaza yang dibangun pada abad ke-7, diberi nama sesuai dengan nama khalifah Umar bin Khattab. Masjid ini dihancurkan dalam serangan udara pada 8 Desember 2023.

"Ini lebih dari sekadar masjid bagi masyarakat," kata Sabrine. "Seorang pria mengatakan kepada saya bahwa ia merasa lebih sedih dengan kehancuran masjid ini dibandingkan dengan kehancuran rumahnya sendiri."

Serangan pada bulan Desember bukanlah yang pertama kali menimpa masjid tersebut. Masjid ini juga pernah diserang pada 19 Oktober dan juga rusak selama Perang Dunia I dan sekali lagi selama serangan Israel ke Gaza tahun 2014.

Gereja

Tidak hanya masjid yang hancur dalam serangan militer Israel pada Oktober 2023, bangunan gereja juga turut mengalami kehancuran. Salah satunya Gereja Bizantium Jabalia yang dibangun pada tahun 444.  Begitu juga Biara Santo Hilarion di desa Nuseirat di pesisir pantai, dibangun pada masa Romawi tahun 340.

Gereja Ortodoks Yunani Santo Porphyrius di Zeitoun dibangun pada tahun 425 dan dianggap sebagai gereja tertua ketiga di dunia, tak luput dari serangan oleh militer Israel pada tanggal 19 Oktober. 

Gereja Keluarga Kudus yang dibangun pada tahun 1974, gereja Katolik Roma di Gaza ini mengalami dampak serangan udara pada tanggal 4 November. Sebuah sekolah di kompleks gereja itu sebagiannya hancur. Serangan itu juga merusak tangki air dan panel surya di atap gereja.

Situs Warisan lainnya

Ard-al-Moharbeen, atau Nekropolis Romawi, ditemukan tahun lalu oleh para arkeolog dari Palestina dan Prancis setelah para pekerja konstruksi menemukan makam di lokasi tersebut. Setidaknya terdapat 134 makam yang diyakini sebagai pekuburan Romawi berasal dari tahun 200 SM hingga 200 M dengan kerangka yang masih utuh.

Seorang arkeolog di Gaza, Fadel Alatel, yang juga bagian dari jaringan Heritage for Peace, mengkhawatirkan tentang kondisi makam-makam langka ini yang mungkin terkena dampak dari serangan bom fosfor putih. Alatel belum meninjau kembali situs makam untuk mensurveri tingkat kerusakan karena situasi yang buruk.

Namun, dalam laporan investigasi Living Archaeology oleh Forensic Architecture (FA), lembaga jurnalisme investigasi berbasis di Goldsmiths, Universitas London, menyebutkan pada tanggal 8 Oktober 2023 menemukan bukti adanya tiga kawah besar dari roket-roket Israel di situs arkeologi tersebut.

Hammam al-Sammara, atau Pemandian Samaria, pemandian satu-satunya yang tersisa dari 38 pemandian yang hilang kini telah hancur akibat serangan Israel pada tanggal 8 Desember. Pemandian ini kemungkinan besar didirikan oleh orang Samaria, sebuah sekte agama dari etnis Yahudi yang tinggal di daerah Zeitoun. Pemandian ini pernah dipugar pada tahun 1320 oleh penguasa Mamluk, Sangar bin Abdullah.

Kota berbenteng Tell el-Ajjul, atau Bukit Betis. Terletak di antara Laut Mediterania dan Wadi Gaza. Didirikan sekitar tahun 2000 SM hingga 1800 SM. Tempat bersejarah ini telah rusak akibat pengeboman Israel.

Status Tidak diketahui

Ini adalah beberapa situs yang kondisinya belum diketahui:

Khanat atau Khan adalah jenis penginapan yang popluer di wilayah Khan Younis dibangun pada tahun 1387 sebagai tempat beristirahat buat para pelancong atau musafir dalam perjalanan mereka di sepanjang wilayah Via Maris yang menjadi rute paling penting dalam perdagangan yang menghubungkan antara Mesir, Suriah, Anatolia, dan Mesopotamia.

Karavanserai yang didirikan oleh Younis al-Nuruzi dari suku Mamluk ini memiliki sebuah masjid, kantor pos, dan ruang penyimpanan.

Pemakaman Deir el-Balah berasal dari Zaman Perunggu akhir (1550-1200 SM). Ditemukan saat penggalian arkeologi dari tahun 1972 hingga 1982. Terdapat peti mati tembikar berbentuk manusia yang unik.

Masjid sufi Ahmadiyyah Zawiya didirikan pada tahun 1336 oleh para pengikut Syekh Ahmad al-Badawi, seorang ulama sufi abad ke-12.

"Semua situs warisan kami ditandai dengan jelas, namun serangan militer Israel, tank-tank dan buldoser terus berlanjut," kata arkeolog itu. "Namun saya yakin semua ini akan berakhir. Bahkan jika mereka berusaha menghancurkan masa lalu kami, kami akan membangun kembali masa depan Gaza."

Sumber: Al Jazeera